Aku mempunyai mimpi, mimpi yang sederhana. Dimana aku pada akhirnya akan duduk di padang rumput dengan kelapangan hati yang sangat besar. Aku mampu mengalahkan rasa untuk mengejar orang-orang di depan. Mimpi ini tidak muncul secara tiba-tiba. Ada penuh luka jiwa yang digores untuk memiliki mimpi yang sederhana ini.
Aku bukanlah manusia yang dibesarkan dari keluarga yang damai. Ada banyak rintangan yang harus dilalui ibuku untuk membesarkanku. Aku selalu berpikir mengapa aku harus hidup? bila aku akan menyakiti orang lain. Mengapa aku harus hidup? bila aku tidak bisa menjamin kebahagiaan orang lain. Mengapa ibuku masih membiarkan aku hidup? dengan segala hal yang dapat membuatnya menangis. Mengapa ibuku harus hidup penuh menderita dari lingkungan bahkan keluarganya sendiri? untuk apa aku dilahirkan? pertanyaan tersebut sulit di jawab untuk seorang anak yang masih berusia 5 tahun.
Aku membenci orang-orang. Aku membenci orang-orang sampai membuat sesak di dada. Aku mempunyai dendam bahkan pada diriku sendiri. Ada beberapa hal yang aku sesali. Ada banyak hinaan untuk kehidupan yang berkutat di diriku setiap hari. Menyimpan gumpalan lemak jenuh di tangan adalah hal yang sia-sia dan sukar dilakukan untuk anak muda yang bahkan tidak tahu perbedaan dunia realitas dengan dunia sandiwara. Aku bukanlah manusia yang baik.
Terlalu keras aku menggenggam sampai aku lelah dengan sendirinya. Aku masih larut di dalam kebingungan. Namun aku juga lelah. Apa yang harus kulakukan? Sebenarnya tidak ada hal yang harus kulakukan. Aku baru menyadari hal itu.
Seringkali ku menangis ketika membaca hal-hal yang membuat orang terus bertahan hidup. Mengapa orang tersebut bisa hidup setelah melakukan banyak penyesalan. Ada satu hal yang ia lakukan. Ia memaafkan semuanya.
Itu adalah hal yang berat dilakukan untuk seorang remaja yang masih bimbang akan tujuan hidupnya. Semua manusia hidup dengan latar belakang yang berbeda-beda. Apakah aku mampu untuk memaafkan semuanya? Apakah aku mampu untuk membuat perdamaian dalam diri? Apakah aku mampu untuk menenangkan diri dari segala keresahan dan kebencian yang ada? itu seperti halnya pisau yang sudah menancap lama di atas tangan namun aku harus mencabutnya lagi secara perlahan. Berat dan sakit, namun akan menjadi lega dan sembuh dengan perasaan yang ringan.
Aku mencoba hal tersebut. Satu persatu aku memaafkan berbagai hal. Aku menangis. Aku menangis bahagia. Seperti ini rasanya memiliki jiwa yang ringan. Kemudian aku memiliki mimpi untuk hidup dalam hati yang lapang. Di tengah kebingungan identitas, hal ini dapat dijadikan refleksi atas diri sendiri untuk terus mengingat bahwa hidup bukanlah hal yang harus dipatokkan dan dicemaskan. Dengan hati yang lapang, kita bisa mencoba memaafkan segala kegagalan dan ekspektasi kita yang tidak terpenuhi. Dengan hati yang lapang, kita bisa memaafkan orang lain. Dengan hati yang lapang, kita bisa memaafkan diri sendiri.
Ada sebuah kalimat yang kusukai, dia yang kembali dari suatu perjalanan, tidak sama dengan dia yang pergi. Kalimat tersebut menggugah diriku bahwa mungkin diriku yang dulu tidaklah sama saat aku yang sering melakukan hal yang berujung penyesalan dengan diriku sekarang yang sudah menulis ini. Aku mensyukuri hal itu. Karena aku manusia. Karena aku diberi kesempatan oleh Tuhan untuk melakukan kesalahan dan belajar darinya. Aku bersyukur karena aku manusia yang memiliki impian yang sederhana.
Aku memiliki mimpi, mimpi yang sederhana. Aku ingin berubah sama halnya dengan semua manusia di muka bumi ini yang terus berubah. Aku ingin menjadi manusia yang baik dan penuh kasih. Aku memiliki mimpi untuk bisa terus hidup dan memiliki jiwa yang lapang.
Berjanjilah bahwa kalian yang membaca ini juga harus berubah, untuk kehidupan yang lebih damai dan ringan. Hidup dalam penyesalan, kehampaan, dan keputusasaan, tidak akan berjalan selamanya. Percayalah bahwa akan ada hari baik dimana hari itulah yang kalian nantikan.